Bayar anak
stok foto

Kaum muda sering kali diberi tahu oleh orang tua atau kakek neneknya bahwa mereka hendaknya menangani uang dengan bijak dan selalu menyisihkan sesuatu. Sering juga dikatakan bahwa Anda hanya bisa merasakan uang jika Anda mendapatkannya sendiri. Namun, seorang peneliti di Universitas Arizona kini menemukan bahwa mendapatkan dan menabung pendapatan sendiri bukanlah faktor penentu dalam penanganan keuangan secara sengaja. Menurut dia Belajar Pelajaran terpentingnya adalah mengenal kegiatan penggalangan dana di usia muda.

Hasilnya, yang diterbitkan dalam Journal of Family and Economic Issues, menunjukkan bahwa sosialisasi keluarga tidak hanya memengaruhi kemurahan hati kita dalam memberi, namun perilaku yang dipelajari ini juga berkorelasi dengan kesejahteraan pribadi.

Filantropi merupakan aspek penting dalam pendidikan keuangan

Ilmuwan tersebut berdasarkan wawancara dengan 115 partisipan dari tiga generasi Sarang Ashley B. LeBaron Pertanyaan mengenai sejauh mana anak-anak belajar bagaimana menyumbangkan barang-barang finansial dari orang tua mereka dan bagaimana sikap terhadap kegiatan-kegiatan tersebut diturunkan dari generasi ke generasi. Meskipun peserta penelitian tidak ditanyai secara langsung mengenai kegiatan filantropi, sebagian besar responden mengidentifikasi aspek ini sebagai bagian penting dari pendidikan keuangan mereka.

“Ketika Anda berpikir tentang uang dan apa yang anak-anak pelajari tentang uang dari orang tua mereka, kebanyakan dari kita tidak akan menganggap memberi uang sebagai salah satu prinsip dasar keuangan,” kata LeBaron dalam sebuah pernyataan. jumpa pers dikutip oleh universitas. “Sungguh mengejutkan dan sangat keren melihat sumbangan begitu meluas.”

Sebagian besar uang itu diberikan kepada keluarga Anda sendiri

Peserta penelitian menggambarkan berbagai motivasi yang memandang filantropi sebagai bagian penting dari pendidikan. Selain kewajiban agama, mereka juga menyebutkan kesediaan untuk membantu dan keinginan untuk memberikan sesuatu kembali kepada masyarakat.

Studi ini mengidentifikasi tiga konsep donasi yang umum: Di satu sisi, donasi amal berupa uang kepada organisasi keagamaan atau amal merupakan hal yang populer. Di sisi lain, banyak peserta penelitian yang memiliki pengalaman memberikan donasi langsung kepada orang yang membutuhkan. Beberapa mitra wawancara menjelaskan bahwa mereka secara sadar mengikutsertakan anak-anak mereka dalam kegiatan-kegiatan ini sebagai semacam pengalaman belajar eksperimental sehingga mereka dapat merasakan langsung tindakan amal.

Namun, menurut penelitian, cara paling populer untuk memberikan uang terjadi di dalam keluarga Anda sendiri. Hal ini seringkali diwujudkan dalam bentuk pengorbanan finansial yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, misalnya dalam bentuk perjalanan atau les musik privat. Pengalaman belajar yang dicari orang tua bagi anaknya adalah penekanan pada pengalaman non-materi dibandingkan kepemilikan langsung atas uang atau barang lainnya.

Kemurahan hati membuatmu bahagia

Dari sudut pandang peneliti, belajar untuk bersedia berdonasi itu penting karena beberapa alasan. Di satu sisi, anak-anak dapat mempelajari dasar-dasar ekonomi dan menabung: “Jika persentase tertentu dari uang Anda digunakan untuk sumbangan, ini adalah awal dari sebuah anggaran,” kata siaran pers tersebut. Di sisi lain, perilaku filantropis juga membantu kebahagiaan pribadi, jelas ilmuwan tersebut. “Orang yang murah hati cenderung lebih bahagia dan memiliki hubungan yang lebih sehat. Jadi tidak hanya keuangan anak-anak yang terkena dampaknya, tapi juga aspek kesehatan dan kesejahteraan mereka.”

Studi ini juga menunjukkan bahwa orang tua harus secara nyata mempraktikkan perilaku berdonasi terhadap anak-anaknya agar dapat menjadi teladan bagi mereka. Orang tua juga dapat melibatkan anak-anak mereka secara langsung dalam kegiatan amal mereka. Psikolog juga menyarankan agar pendidik juga harus lebih menekankan pada pengajaran kemurahan hati. Sekolah harus menjadi tempat anak-anak belajar tentang filantropi selain perencanaan anggaran.

Data SDY